“Pagi Panen Padi, Sore Tanam Jagung”
- May 15, 2026
- KIM SAHABAT NGITLAOK
- BERITA PERTANIAN
Semangat Petani Pohsangit Kidul Tak Pernah Surut, Sawah Kembali Hidup di Tengah Musim Panen
Hamparan sawah di Kelurahan Pohsangit Kidul kembali dipenuhi aktivitas para petani. Di bawah hangatnya sinar matahari dan semilir angin pedesaan, musim panen padi tahun ini membawa suasana penuh semangat bagi masyarakat. Bulir-bulir padi yang menguning tampak bergoyang tertiup angin, menjadi tanda hasil kerja keras para petani selama berbulan-bulan akhirnya tiba pada masa panen.
Namun yang menarik, suasana di Pohsangit Kidul tidak berhenti hanya pada panen padi saja. Setelah padi selesai dipanen, lahan sawah kembali dipersiapkan untuk penanaman jagung. Aktivitas pertanian berlangsung nyaris tanpa jeda, memperlihatkan semangat luar biasa masyarakat dalam menjaga produktivitas lahan pertanian mereka.
Sejak pagi hari, para petani sudah terlihat sibuk di area persawahan. Ada yang memanen padi menggunakan alat tradisional, ada pula yang mulai mempersiapkan lahan untuk penanaman jagung berikutnya. Pemandangan ini menjadi gambaran nyata bahwa sektor pertanian masih menjadi denyut kehidupan masyarakat setempat.
“Kalau sawah kosong terlalu lama rasanya seperti ada yang kurang,” ujar salah seorang petani sambil membersihkan sisa batang padi di lahannya.
Musim panen kali ini disambut dengan rasa syukur oleh masyarakat. Hasil panen yang cukup baik memberikan harapan baru bagi para petani di tengah berbagai tantangan pertanian yang selama ini dihadapi, mulai dari cuaca yang tidak menentu hingga biaya produksi yang terus meningkat.
Meski demikian, semangat petani Pohsangit Kidul tetap tidak surut. Mereka justru semakin optimis untuk melanjutkan masa tanam berikutnya dengan komoditas jagung yang dinilai cukup menjanjikan.
Di sejumlah area persawahan, warga tampak bergotong royong membantu proses pengolahan lahan. Suasana kebersamaan begitu terasa ketika para petani saling membantu mempersiapkan sawah agar siap ditanami kembali.
Tidak hanya kaum orang tua, beberapa generasi muda juga mulai terlihat ikut turun ke sawah membantu keluarga mereka. Hal ini menjadi pemandangan yang cukup menggembirakan di tengah kekhawatiran berkurangnya minat generasi muda terhadap dunia pertanian.
“Kami ingin anak-anak muda tahu kalau bertani itu bukan pekerjaan kuno. Justru dari sawah inilah kehidupan banyak keluarga berjalan,” kata seorang tokoh masyarakat setempat.
Pergantian musim dari panen padi menuju tanam jagung juga memberikan warna tersendiri bagi kehidupan masyarakat. Jika sebelumnya sawah didominasi warna kuning keemasan padi matang, kini lahan mulai berubah menjadi area tanam baru yang penuh harapan.
Selain menjadi sumber penghasilan masyarakat, aktivitas pertanian di Pohsangit Kidul juga menjadi bagian penting dari budaya gotong royong warga. Kebersamaan masih sangat terasa ketika musim panen maupun masa tanam tiba.
Di sela aktivitas panen, para petani biasanya berkumpul untuk beristirahat sambil berbincang ringan mengenai hasil panen, kondisi cuaca, hingga harga hasil pertanian di pasaran. Suasana sederhana seperti inilah yang menjadi kekuatan masyarakat pedesaan.
Keberadaan lahan pertanian di Kelurahan Pohsangit Kidul juga dinilai memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat. Di tengah perkembangan wilayah dan perubahan zaman, para petani tetap berupaya mempertahankan lahan pertanian agar tetap produktif.
Kini harapan baru kembali tumbuh bersama dimulainya masa tanam jagung. Para petani berharap kondisi cuaca mendukung sehingga hasil panen berikutnya dapat lebih maksimal dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi warga Pohsangit Kidul, sawah bukan sekadar lahan pertanian. Sawah adalah sumber kehidupan, tempat lahirnya semangat kerja keras, serta simbol perjuangan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan hidup keluarga mereka.
Dan ketika musim panen tiba, bukan hanya hasil padi yang dipetik, tetapi juga rasa syukur atas kerja keras yang akhirnya membuahkan hasil.