Ngaji Fathul Qorib Keliling Ranting NU Pohsangit Kidul, Tradisi Ilmu dan Guyonan yang Terus Menghidupkan Kebersamaan Warga NU

  • May 19, 2026
  • IMUTS
  • BERITA KEAGAMAAN

Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Pohsangit Kidul terus menjaga tradisi keilmuan Islam melalui kegiatan rutin Ngaji Kitab Fathul Qorib yang dilaksanakan setiap dua minggu sekali secara bergiliran di wilayah ranting se-Kecamatan Kademangan. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang memperdalam ilmu agama, tetapi juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga Nahdliyin dengan suasana penuh kehangatan dan sesekali diselingi guyonan khas ala Gus Dur yang membuat jamaah semakin betah mengikuti pengajian hingga selesai.

Kegiatan ngaji rutin tersebut biasanya dihadiri para pengurus NU, tokoh masyarakat, pemuda, hingga warga sekitar yang antusias mengikuti kajian kitab kuning karya ulama klasik tersebut. Meski pembahasan kitab Fathul Qorib dikenal cukup mendalam dalam bidang fikih, suasana pengajian tetap terasa ringan karena para pemateri kerap menyisipkan humor-humor sederhana yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dalam salah satu kesempatan, seorang ustaz bahkan sempat berseloroh di depan jamaah, “Kalau ngaji fikih itu jangan cuma paham bab wudu, tapi juga harus paham bab sabar menghadapi harga cabai.” Mendengar celetukan itu, jamaah pun langsung tertawa. Guyonan sederhana seperti itulah yang membuat suasana pengajian terasa hidup dan tidak kaku.

Tradisi ngaji kitab keliling tersebut menjadi salah satu ciri khas kegiatan Nahdlatul Ulama di wilayah Kecamatan Kademangan. Setiap dua minggu sekali, lokasi pengajian berpindah dari satu ranting ke ranting lainnya. Sistem bergiliran itu dinilai mampu mempererat hubungan antarjamaah serta menumbuhkan semangat kebersamaan di tengah masyarakat.

Warga Pohsangit Kidul mengaku senang karena kegiatan tersebut tetap istiqamah berjalan di tengah kesibukan masyarakat modern saat ini. Di tengah maraknya hiburan digital dan aktivitas media sosial, tradisi ngaji kitab tetap menjadi ruang penting untuk menjaga nilai-nilai keislaman sekaligus memperkuat budaya musyawarah dan kebersamaan warga.

Suasana pengajian biasanya dimulai selepas salat Isya. Jamaah datang membawa kitab masing-masing, sebagian mengenakan sarung dan peci, sementara para ibu duduk rapi di bagian belakang sambil sesekali menyiapkan suguhan sederhana untuk para tamu. Aroma kopi dan teh hangat sering kali menjadi pelengkap suasana malam pengajian yang penuh keakraban.

Bahkan ada jamaah yang bercanda bahwa ngaji Fathul Qorib ini bukan hanya menguatkan ilmu, tetapi juga menguatkan “daya tahan duduk”. Sebab ketika pembahasan sudah masuk persoalan fikih yang cukup rinci, sebagian jamaah mulai menggeser posisi duduk sambil tetap berusaha fokus mendengarkan penjelasan ustaz. Namun justru di situlah letak kekeluargaan yang terasa hangat dan khas.

Menurut pengurus ranting NU setempat, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga tradisi ahlussunnah wal jamaah serta melestarikan budaya ngaji kitab kuning yang telah diwariskan para ulama sejak dahulu. Selain memperdalam ilmu agama, kegiatan itu juga menjadi wadah membangun komunikasi dan persaudaraan antarwarga NU di wilayah Kecamatan Kademangan.

Kitab Fathul Qorib sendiri dikenal sebagai salah satu kitab fikih dasar yang banyak dipelajari di pesantren-pesantren tradisional. Pembahasannya meliputi berbagai persoalan ibadah dan kehidupan sehari-hari yang dekat dengan masyarakat. Karena itu, kajian kitab ini dianggap penting agar masyarakat memiliki pemahaman agama yang baik dan moderat.

Di akhir kegiatan, suasana biasanya semakin cair ketika jamaah saling berbincang santai sambil menikmati hidangan sederhana yang disiapkan tuan rumah. Dari pembahasan agama hingga candaan ringan soal kehidupan sehari-hari, semuanya bercampur menjadi suasana penuh kekeluargaan.

Kegiatan rutin Ngaji Kitab Fathul Qorib yang digelar Pengurus Ranting NU Pohsangit Kidul bersama ranting se-Kecamatan Kademangan tersebut kini bukan sekadar pengajian biasa. Lebih dari itu, kegiatan tersebut telah menjadi ruang silaturahmi, ruang belajar, sekaligus ruang tertawa bersama dalam menjaga tradisi Islam yang ramah, sejuk, dan penuh kebersamaan ala Nahdliyin.(Imuts)