“Sekali Gigit Langsung Nambah!”

  • May 21, 2026
  • IMUTS
  • BERITA UMKM

Pentol Cilok Daging Buatan Ibu Pujiati Jadi Buruan Pecinta Jajanan di Kademangan

POHSANGIT KIDUL – Siapa sangka, di sudut sederhana kawasan selatan Alfamart Kademangan, aroma gurih kuah hangat dan pentol cilok yang mengepul setiap hari justru sukses menggoda banyak orang untuk menepi sejenak. Lapak milik Ibu Pujiati, atau yang akrab dipanggil Ibu Sadi, kini menjadi salah satu jajanan favorit masyarakat di kawasan Kademangan, Kota Probolinggo.

Setiap sore hingga malam hari, gerobak sederhana milik beliau hampir tak pernah sepi pembeli. Mulai dari anak sekolah, pekerja kantoran, pengendara motor, hingga warga sekitar tampak rela antre demi menikmati sensasi kenyal dan gurihnya pentol cilok daging buatan tangan Ibu Sadi.

Yang membuat jajanan ini berbeda bukan hanya ukuran pentolnya yang cukup besar, tetapi juga isian daging yang terasa lebih padat dan berbumbu. Ditambah siraman saus pedas, kecap, sambal, hingga kuah hangat yang menggoda, membuat pembeli sering kali lupa diri. Niat awal membeli lima tusuk, pulangnya malah tambah lima lagi.

Bahkan beberapa pelanggan mengaku sudah hafal suara sendok dan mangkuk dari kejauhan. Ada yang bercanda bahwa aroma pentol Ibu Sadi lebih cepat terdeteksi daripada notifikasi pesan di ponsel.

“Kalau lewat sini belum beli pentol rasanya seperti ada yang kurang,” ujar salah satu pelanggan sambil tertawa.

Suasana di sekitar gerobak pun selalu terasa hidup. Candaan antara pembeli dan penjual menjadi pemandangan sehari-hari yang membuat lapak tersebut terasa akrab layaknya tempat nongkrong kecil warga sekitar. Tak sedikit pembeli yang awalnya hanya ikut teman, namun akhirnya malah menjadi pelanggan tetap.

Ibu Pujiati sendiri mengaku telah menjalankan usaha tersebut cukup lama dengan penuh ketekunan. Setiap hari dirinya menyiapkan bahan-bahan sejak pagi agar kualitas rasa tetap terjaga. Daging pilihan dan racikan bumbu khas menjadi rahasia utama mengapa pentol cilok buatannya digemari banyak orang.

Meski berjualan secara sederhana di pinggir jalan, semangat usaha yang dimiliki Ibu Sadi patut diapresiasi. Di tengah banyaknya jajanan modern dan makanan viral, pentol cilok tradisional dengan cita rasa khas justru tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.

Harga yang ramah di kantong juga menjadi alasan mengapa pembeli datang dari berbagai kalangan. Dengan uang belasan ribu rupiah saja, pelanggan sudah bisa menikmati semangkuk pentol cilok daging hangat yang mengenyangkan.

Tak jarang, saat cuaca malam mulai dingin, lapak Ibu Sadi justru semakin ramai. Asap kuah hangat yang mengepul seolah menjadi “alarm lapar” bagi para pengendara yang melintas di kawasan Kademangan.

Keberadaan UMKM seperti milik Ibu Pujiati menjadi bukti bahwa usaha kecil mampu memberikan dampak besar bagi ekonomi keluarga sekaligus menghidupkan suasana kuliner lokal Kota Probolinggo. Dari gerobak sederhana di pinggir jalan, lahirlah rasa yang mampu membuat pelanggan datang kembali berkali-kali.

Dan satu hal yang kini mulai dipercaya banyak pelanggan setianya: kalau sudah mencoba pentol cilok daging Ibu Sadi sekali, diet sering kali tinggal wacana belaka. (Imuts)