TAJIN SAPPAR, WARISAN MBAH BUYUT...
- Sep 14, 2023
- KIM SAHABAT NGITLAOK
- BERITA ADAT DAN KEBUDAYAAN
POHSANGIT KIDUL - Masyarakat Jawa pasti sudah tidak asing dengan jenis makanan jenang. Salah satu jenis jenang yang selalu ada saat momen tertentu adalah jenang sapar. Biasanya, jenang sapar disajikan saat memasuki bulan Safar. Makanan berbahan dasar beras ketan dengan dicampur gula merah ini memiliki rasa cenderung manis. Jenang sapar sendiri terdiri dari dua bagian utama yaitu grendul dan kuah gula merah. Grendul merupakan olahan berbentuk bulat dari tepung, sementara kuah gula berwarna coklat merupakan kuah yang berasal dari bahan dasar gula merah.
Ternyata jenang sapar merupakan peninggalan warisan budaya Sunan Kalijaga, lho. Yuk, kita simak lebih jauh lagi mengenai filosofi jenang sapar.
Jenang Sapar atau di daerah lain juga disebut tajin sapar adalah sebuah hidangan yang umum disajikan saat memasuki Bulan Shofar. Jenang yang mempunyai rasa manis dengan isian beras ketan yang dibentuk bulat ini menjadi tradisi turun temurun sehingga dirasa kurang lengkap jika tidak ada jenang sapar saat memasuki Bulan Shofar.
Rasa Syukur dan Harapan baik dengan sebuah media (Tafa'ul) merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan dalam Islam, seperti memberi nama dengan nama yang baik dengan harapan menular dalam diri seorang anak, atau membuat sebuah simbol seperti jenang sapar sebagai ungkapan syukur dan mengharap kepada Allah agar diberi kehidupan yang manis, dan lain sebagainya seperti yang pernah dilakukan Nabi Nuh selepas Banjir Bandang saat bulan Muharram.

MAKNA YANG TERSIRAT DARI JENANG SAPPAR
Jenang sapar merupakan sajian bulan safar yang dahulunya bulan ini dianggap dengan bulan penuh kesialan, sehingga melalui tradisi 'njenang' ini diharapkan dapat menjauhkan manusia dari segala hal-hal buruk yang akan terjadi.
Dikutip dari artikel berjudul Jenang Grendul Sebagai Simbol Bulan Safar di Dusun Banjar Patoman, Amadanom, Dampit, Kabupaten Malang oleh Abdul Qodir Abdillah (2022), jenang grendul atau jenang sapar menggambarkan peristiwa di zaman Nabi Musa. Kala itu, Nabi Musa dikejar kaum kafir pasukan Fir'aun, namun kaum kafir tersebut tenggelam di lautan.
Lautan dalam peristiwa ini diibaratkan jenang, sementara kaum kafir diibaratkan sebagai grendul. Peristiwa tersebut diperkirakan terjadi saat bulan Safar sehingga inilah yang melatar belakangi tradisi njenang pada setiap bulan Safar. Adapun tokoh yang menginisiasi tradisi njenang adalah Sunan Kalijaga melalui dakwahnya. Tradisi njenang ini merupakan bagian dari upaya menyebarkan budaya Islam pada saat itu. Salah satu keutamaan bulan Safar adalah silaturahmi, biasanya masyarakat melakukan tradisi ini dengan membagikan jenang grendul kepada keluarga terdekat sebagai bentuk menjaga silaturahmi. Adapun warna merah kecoklatan pada bubur melambangkan darah seorang ibu, sementara bulatan grendul berbentuk kelereng melambangkan bibit atau embrio.
Jenang sapar menggambarkan dari mana manusia berasal, sehingga sepatutnya untuk selalu menghormati segala jenis ciptaan Allah.